Laga Legenda Ac Milan vs All Star Legends Indonesia sudah selesai. Franco Baresi cs menang telak 5-1, Serginho menunjukkan kwalitasnya dengan membeorong 4 gol. Dan, rekan senegaranya penjaga gawang Dida, yang pada babak kedua main sebagai striker mencetak 1 gol. All Star Legends Indonesia pada babak kedua, meski memiliki banyak peluang, termasuk penalti Ponaryo yang berhasil ditepis penjaga gawang pengganti Masimo Taibi, hanya mampu memperkecil kekalahan dengan gol tendangan volley striker Ricky Yakobi pada akhir pertandingan.
Meski hanya bermain 25 menit, saya cukup puas, sekaligus cukup capek juga. Kedua lutut saya yang malam sebelum laga sudah di pijit oleh masseur tim, kembali sakit. Ngilu, kaku dan sulit ditekuk. Pendapat bahwa usia tidak bisa dibohongi, memang benar. Di ruang ganti, selesai pertandingan semua pemain diam tidak banyak bicara. Diam bukan karena kecewa dengan kekalahan besar, tapi untuk tersenyumpun sudah tidak punya tenaga, terutama untuk pemain kelompok 40 tahun keatas.
Terlepas bahwa laga ini adalah laga amal, banyak pelajaran penting tentang bagaimana bermain sepakbola yang benar diperlihatkan oleh legenda Ac Milan. Mereka bermain sangat efektif dan efisien. Organisasi pertahanannya sangat disiplin dan solid. Pada saat menyerang, lebar lapangan juga dapat dimanfaatkan dengan baik. Passing diantara dua lawan, passing di belakang lawan, pemain ketiga (third man run) yang selalu ada, membuat bola selalu mengalir menuju daerah pertahanan All Star Legends Indonesia. Lemahnya fisik, biasanya akan menular ke lemahnya komunikasi serta koordinasi, gol hanya tinggal menunggu waktu saja.
Dari bangku cadangan, saya coba berpikir, apa yang harus "KITA" lakukan agar mutu sepakbola kita bisa berkualitas seperti yang diperagakan oleh Legenda Ac Milan? Berkualitas dalam bertahan, berkualitas juga dalam menyerang. Franco Baresi, Serginho, Massaro adalah bintang besar yang diberikan Tuhan dua kaki, seperti yang juga Tuhan berikan kepada semua pemain Indonesia, tapi kemampuan mengolah bolanya koq tidak sama?
PSSI adalah ujung tombak peningkatan prestasi sepakbola Indonesia. Tapi membiarkan PSSI bekerja sendiri tanpa dukungan komponen sepakbola lainnya, ibarat membiarkan Ricky Yacobi bekerja sendiri membongkar pertahanan lawan. Terima kasih Ac Milan, meski diakhir pertandingan tidak ada tukar kaos, laga ini tetap menjadi kenangan.
No comments:
Post a Comment