Saturday, September 10, 2011

Tetap Jaga Kekompakan

Setelah kalah 0-2 lawan Bahrain di stadion GBK Jakarta 6 September 2011 lalu, tulisan tentang Timnas tidak lagi semanis ketika mereka tampil dalam laga Piala AFF yang lalu. Hampir semua media, mencoba menganalisa penyebab kegagalan timnas Indonesia meraih poin dalam dua laganya baik di home maupun away. Parahnya lagi, beberapa analisa media yang sudah dipublikasikan tersebut, dapat mengarah kepada perpecahan dalam timnas. Disharmonisasi pelatih dengan pemain, dan bukan tidak mungkin dapat pula terjadi perpecahan diantara pemain. Ini bahaya dan harus cepat diatasi, jika kita memang ingin serius ke Brazil tahun 2014.
Menyikapi kekalahan dengan mencari kambing hitam sebagai biang keladi penyebab kegagalan bukanlah solusi. Evaluasi wajib diperlukan. Begitu juga introspeksi. Semua komponen tim sebaiknya melakukan introspeksi bagaimana perjalanan tim nasional senior ini menghadapi laga menuju Brazil 2014. Jangan membebani hasil jelek dua laga ini hanya kepada pelatih dan pemain saja. Adakah yang bertanggungjawab mengapa timnas kita sampai di Jakarta kalah cepat dibandingkan tim tamu?
Tentang laga itu sendiri, meski tampil di depan suporter fanatiknya, timnas tidak mendominasi permainan. Penampilan impresif timnas pada laga Piala AFF lalu dimana kombinasi fisik, teknik, taktik dan mental sangat terlihat sepanjang laga, lawan Bahrain tidak tampak sama sekali. Pemain timnas kita sangat mudah kehilangan bola, bahkan sebelum masuk ke daerah pertahanan Bahrain. Wajar jika Christian Gonzales terlihat kecewa karena memang distribusi bola kepadanya sangat kurang. Organisasi tim baik dalam menyerang dan bertahan, ataupun dalam situasi transisi dari kedua momen tersebut juga lemah. Komentar beberapa suporter bahwa timnas kita pantas kalah lawan Bahrain saya sepakat. Tapi komentar pelatih Wim Rijbergen setelah laga tersebut bahwa timnas yang bermain tersebut bukan timnya, saya tidak setuju. Di ruang ganti, pelatih boleh saja meluapkan kekecewaannya dengan sumpah serapahnya, tapi saat jumpa pers, pelatih harus siap mengambil alih tanggungjawab hasil jelek timnya.
Mumpung masih ada waktu untuk laga selanjutnya, cepatlah perbaiki keadaan ini, karena suporter tetap merindukanMu.

Sunday, September 4, 2011

Terima Kasih, Ac Milan.

Laga Legenda Ac Milan vs All Star Legends Indonesia sudah selesai. Franco Baresi cs menang telak 5-1, Serginho menunjukkan kwalitasnya dengan membeorong 4 gol. Dan, rekan senegaranya penjaga gawang Dida, yang pada babak kedua main sebagai striker mencetak 1 gol. All Star Legends Indonesia pada babak kedua, meski memiliki banyak peluang, termasuk penalti Ponaryo yang berhasil ditepis penjaga gawang pengganti Masimo Taibi, hanya mampu memperkecil kekalahan dengan gol tendangan volley striker Ricky Yakobi pada akhir pertandingan.
Meski hanya bermain 25 menit, saya cukup puas, sekaligus cukup capek juga. Kedua lutut saya yang malam sebelum laga sudah di pijit oleh masseur tim, kembali sakit. Ngilu, kaku dan sulit ditekuk. Pendapat bahwa usia tidak bisa dibohongi, memang benar. Di ruang ganti, selesai pertandingan semua pemain diam tidak banyak bicara. Diam bukan karena kecewa dengan kekalahan besar, tapi untuk tersenyumpun sudah tidak punya tenaga, terutama untuk pemain kelompok 40 tahun keatas.
Terlepas bahwa laga ini adalah laga amal, banyak pelajaran penting tentang bagaimana bermain sepakbola yang benar diperlihatkan oleh legenda Ac Milan. Mereka bermain sangat efektif dan efisien. Organisasi pertahanannya sangat disiplin dan solid. Pada saat menyerang, lebar lapangan juga dapat dimanfaatkan dengan baik. Passing diantara dua lawan, passing di belakang lawan, pemain ketiga (third man run) yang selalu ada, membuat bola selalu mengalir menuju daerah pertahanan  All Star Legends Indonesia. Lemahnya fisik, biasanya akan menular ke lemahnya komunikasi serta koordinasi, gol hanya tinggal menunggu waktu saja.
Dari bangku cadangan, saya coba berpikir, apa yang harus "KITA" lakukan agar mutu sepakbola kita bisa berkualitas seperti yang diperagakan oleh Legenda Ac Milan? Berkualitas dalam bertahan, berkualitas juga dalam menyerang. Franco Baresi, Serginho, Massaro adalah bintang besar yang diberikan Tuhan dua kaki, seperti yang juga Tuhan berikan kepada semua pemain Indonesia, tapi kemampuan mengolah bolanya koq tidak sama?
PSSI adalah ujung tombak peningkatan prestasi sepakbola Indonesia. Tapi membiarkan PSSI bekerja sendiri tanpa dukungan komponen sepakbola lainnya, ibarat membiarkan Ricky Yacobi bekerja sendiri membongkar pertahanan lawan. Terima kasih Ac Milan, meski diakhir pertandingan tidak ada tukar kaos, laga ini tetap menjadi kenangan.